Dulu, aku sering meragukan diriku sendiri sebagai seorang ibu. Ada ketakutan yang diam-diam terus mengikuti... takut pola asuhku salah, takut tanpa sadar aku mengulang luka lama dari cara orang tuaku dulu mendidik, atau bahkan takut bahwa pola dari pihak ayahnya akan lebih mendominasi dalam dirinya. Kekhawatiran itu sering muncul tanpa diundang, membuatku mempertanyakan setiap keputusan kecil yang aku ambil dalam membesarkan anakku.
Namun, seiring waktu, perlahan aku mulai meragukan keraguanku sendiri. Ada titik di mana aku berhenti sejenak, melihat lebih dekat, dan menyadari sesuatu yang selama ini terlewat: anakku tumbuh jauh lebih baik dari yang pernah aku bayangkan. Bahkan, dia melebihi ekspektasiku sendiri.
Rafa, di usianya yang masih 9,5 tahun, menunjukkan hal-hal yang sering kali tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata. Dia memiliki rasa tanggung jawab, kepedulian, empati, jiwa kepemimpinan, keberanian, dan intuisi yang begitu kuat. Hal-hal kecil yang dia lakukan justru menjadi bukti terbesar. Saat di keramaian, dia menggandeng tanganku dan berkata, “Ma, kalau ada yang gangguin mama bilang ke aku ya.” Kalimat sederhana, tapi penuh makna.....seolah dia ingin melindungi aku, ibunya.
Ketika aku bilang ingin lari pagi dan dia merasa malas untuk ikut, dia tidak hanya berhenti di rasa malasnya. Dia berpikir, lalu berkata dengan penuh pertimbangan, “Aku males lari, Ma… tapi aku takut mama nanti kenapa-kenapa di jalan.” Ada rasa tanggung jawab yang muncul dari dalam dirinya, bukan karena dipaksa, tapi karena dia peduli.
Saat aku sakit, tanpa diminta, dia mengambilkan obat dan menyelimutiku dengan pelan. Dalam permainan bersama teman-temannya pun, dia menunjukkan kepemimpinan. Ketika bola mereka jatuh ke got dan seorang teman yang lebih kecil ingin mengambilnya, Rafa langsung melarang, “Kamu menjauh dulu, biar aku yang ambil.” Dia memastikan orang lain aman, bahkan dalam situasi sederhana.
Dan satu momen yang paling menggetarkan hatiku adalah saat pillow talk, ketika dia bertanya, “Mama, mama bangga nggak punya anak aku?” Pertanyaan itu sederhana, tapi menyentuh sangat dalam. Di situlah aku benar-benar sadar.....selama ini aku terlalu sibuk meragukan diriku, sampai hampir lupa melihat hasil dari semua yang sudah aku lakukan.
Rafa tumbuh fatherless (ayahnya ada tapi tidak ambil peran dalam mendidik). Itu yang dulu paling aku takutkan. Aku khawatir dia tidak akan memiliki sosok untuk diteladani sebagai laki-laki, tidak akan tahu bagaimana menjadi pemimpin yang bijaksana. Tapi ternyata, ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Justru sebaliknya, dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang penuh tanggung jawab dan hati.
Hari ini, aku bisa berkata dengan jujur: aku bangga. Bukan hanya padanya, tapi juga pada diriku sendiri. Aku mungkin bukan ibu yang sempurna, tapi aku cukup....dan itu terbukti dari bagaimana anakku tumbuh.
Aku tidak lagi merasa harus mengejar sesuatu untuk membuatku bangga. Memiliki anak yang tumbuh menjadi pribadi yang baik, yang gentle, yang peduli, itu sudah lebih dari cukup. Prestasi lain, jika ada, hanyalah bonus dalam hidupku.
Rafa, mama sangat bangga. 🥹





