Astrid Arifianti
Powered by Blogger
  • Home
  • Download
  • Shop
    • Oh Lovely Project
    • Luna Gift
    • Luna Bride
  • Visual Stories
    • Wedding
    • Photobooth
      • Photobox
      • Ipadbooth
      • 360 Spin
      • Dering Box
      • Upperbooth
    • Sweet Julie
    • FeedHolic
  • Let’s Connect

Journaling

Journaling

Drawing

Drawing

Photobook

Photobook

Sweet Tread

Dhuk Pasta

Gallery

Gallery

Nature

Green Escape

MoonLight

Kiki

threads

Threads

Dulu, aku sering meragukan diriku sendiri sebagai seorang ibu. Ada ketakutan yang diam-diam terus mengikuti... takut pola asuhku salah, takut tanpa sadar aku mengulang luka lama dari cara orang tuaku dulu mendidik, atau bahkan takut bahwa pola dari pihak ayahnya akan lebih mendominasi dalam dirinya. Kekhawatiran itu sering muncul tanpa diundang, membuatku mempertanyakan setiap keputusan kecil yang aku ambil dalam membesarkan anakku.

Namun, seiring waktu, perlahan aku mulai meragukan keraguanku sendiri. Ada titik di mana aku berhenti sejenak, melihat lebih dekat, dan menyadari sesuatu yang selama ini terlewat: anakku tumbuh jauh lebih baik dari yang pernah aku bayangkan. Bahkan, dia melebihi ekspektasiku sendiri.

Rafa, di usianya yang masih 9,5 tahun, menunjukkan hal-hal yang sering kali tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata. Dia memiliki rasa tanggung jawab, kepedulian, empati, jiwa kepemimpinan, keberanian, dan intuisi yang begitu kuat. Hal-hal kecil yang dia lakukan justru menjadi bukti terbesar. Saat di keramaian, dia menggandeng tanganku dan berkata, “Ma, kalau ada yang gangguin mama bilang ke aku ya.” Kalimat sederhana, tapi penuh makna.....seolah dia ingin melindungi aku, ibunya.

Ketika aku bilang ingin lari pagi dan dia merasa malas untuk ikut, dia tidak hanya berhenti di rasa malasnya. Dia berpikir, lalu berkata dengan penuh pertimbangan, “Aku males lari, Ma… tapi aku takut mama nanti kenapa-kenapa di jalan.” Ada rasa tanggung jawab yang muncul dari dalam dirinya, bukan karena dipaksa, tapi karena dia peduli.

Saat aku sakit, tanpa diminta, dia mengambilkan obat dan menyelimutiku dengan pelan. Dalam permainan bersama teman-temannya pun, dia menunjukkan kepemimpinan. Ketika bola mereka jatuh ke got dan seorang teman yang lebih kecil ingin mengambilnya, Rafa langsung melarang, “Kamu menjauh dulu, biar aku yang ambil.” Dia memastikan orang lain aman, bahkan dalam situasi sederhana.

Dan satu momen yang paling menggetarkan hatiku adalah saat pillow talk, ketika dia bertanya, “Mama, mama bangga nggak punya anak aku?” Pertanyaan itu sederhana, tapi menyentuh sangat dalam. Di situlah aku benar-benar sadar.....selama ini aku terlalu sibuk meragukan diriku, sampai hampir lupa melihat hasil dari semua yang sudah aku lakukan.

Rafa tumbuh fatherless (ayahnya ada tapi tidak ambil peran dalam mendidik). Itu yang dulu paling aku takutkan. Aku khawatir dia tidak akan memiliki sosok untuk diteladani sebagai laki-laki, tidak akan tahu bagaimana menjadi pemimpin yang bijaksana. Tapi ternyata, ketakutan itu tidak menjadi kenyataan. Justru sebaliknya, dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang penuh tanggung jawab dan hati.

Hari ini, aku bisa berkata dengan jujur: aku bangga. Bukan hanya padanya, tapi juga pada diriku sendiri. Aku mungkin bukan ibu yang sempurna, tapi aku cukup....dan itu terbukti dari bagaimana anakku tumbuh.

Aku tidak lagi merasa harus mengejar sesuatu untuk membuatku bangga. Memiliki anak yang tumbuh menjadi pribadi yang baik, yang gentle, yang peduli, itu sudah lebih dari cukup. Prestasi lain, jika ada, hanyalah bonus dalam hidupku.

Rafa, mama sangat bangga. ðŸ¥¹

Dulu, aku pernah memiliki satu mimpi yang begitu jelas: menjadi seorang arsitek. Aku membayangkan diriku menggambar denah, menyusun ruang, menciptakan bangunan yang tak hanya berdiri kokoh tetapi juga menyimpan cerita. Namun entah bagaimana, mimpi itu tak pernah benar-benar kujalankan. Bahkan untuk memulainya saja, aku tidak pernah cukup berani.

Seingatku, ibu ingin aku mengambil jalan yang lebih “aman.” Fokus di bidang ekonomi, bekerja rapi di balik meja, mengenakan seragam bank yang terlihat mapan dan terhormat. Mungkin itu bentuk cinta yang ia pahami....masa depan yang stabil untuk anak perempuannya. Dan aku, yang saat itu masih terlalu muda untuk membedakan antara keinginan sendiri dan harapan orang tua, memilih untuk mengikuti arus.

Lalu datang masa muda yang kacau. Keputusan-keputusan yang terburu-buru, emosi yang belum matang, dan hubungan yang seharusnya tidak kugenggam terlalu erat. Sedikit demi sedikit, impian itu terkikis. Bukan karena tak mampu, tetapi karena kehilangan arah. Mungkin juga karena aku membiarkan orang lain terlalu banyak menentukan langkahku.

Hari ini, aku tidak menyalahkan siapa pun. Tidak pada ibu, tidak pada keadaan, tidak pula pada seseorang di masa lalu. Namun penyesalan tetap ada....sunyi, tapi dalam. Sebuah suara kecil yang sering berbisik, “what if…” Bagaimana jika dulu aku lebih berani? Bagaimana jika aku tetap bertahan pada mimpiku? Pertanyaan itu berjalan bersamaku, seiring bertambahnya usia.

Jika kamu masih muda dan kebetulan membaca ini, izinkan aku berbicara sebagai seseorang yang merasa telah menyia-nyiakan setengah hidupnya. Tolong, jangan keluar dari jalur yang sudah kamu yakini sebagai mimpimu sendiri. Dunia mungkin akan menawarkan banyak jalan yang terlihat lebih aman, lebih cepat, atau lebih menyenangkan. Tapi suatu hari nanti, ketika usia tak lagi muda, yang tersisa hanyalah pertanyaan tentang pilihan yang tidak pernah diperjuangkan. Dan percayalah, rasa itu jauh lebih berat daripada lelahnya berjuang sejak awal.

Tahun 2025 kemarin ngajarin aku satu hal penting dalam bisnis: tidak semua client harus diperjuangkan. Ada kalanya kita terlalu ingin “ambil momentum”, terlalu ingin portfolio terlihat naik level, sampai lupa satu hal sederhana , apakah ini worth it?

Aku pernah handle client yang secara harga tidak banyak menawar, tapi cerewetnya luar biasa. Cerewet sebenarnya bukan masalah. Aku justru senang dengan client yang detail dan ingin tahu proses kerja kami. Tapi yang satu ini berbeda. Setiap penjelasan yang kami berikan selalu terasa tidak cukup. Semua ditanya sampai ke detail alat-alat kecil, teknis yang bahkan sebenarnya sudah jelas dari portfolio dan reputasi kami. Rasanya seperti tidak ada trust sejak awal. Padahal sebelum hire, mereka sudah lihat akun kami, sudah tahu kualitas kami. Tapi tetap saja setiap percakapan terasa seperti kami sedang diuji.

Yang bikin makin menguras energi, dia beberapa kali datang ke office tanpa appointment. Padahal sistem kami jelas: by appointment only. Ketika tidak bertemu karena memang tidak ada jadwal, malah kami yang seolah disalahkan. “Loh kak, aku sudah di depan rumah.” Kalimatnya terdengar sederhana, tapi rasanya seperti sedang digaslight. Seakan-akan kami yang tidak profesional, padahal aturan sudah jelas sejak awal. Dan puncaknya, dia membuat grup khusus berisi dirinya, calon pasangannya, dan tim kami. lalu mereka beradu argumen di dalam grup itu. Vendor berubah jadi penonton konflik pribadi. Di situ aku sadar, ini bukan lagi soal pekerjaan. Ini soal batas.

Belum selesai di situ, ada juga tipe lain yang lebih melelahkan secara mental. Tipe yang menawar tanpa masuk akal, cerewet, revisi berkali-kali, tapi di saat yang sama selalu mengaku sibuk. Awalnya kami tetap ambil karena berpikir ini bisa jadi momentum yang bagus untuk exposure vendor. Kesalahan kami juga, terlalu ingin mengejar “nama”. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya.

Mereka tidak konfirmasi sejak awal bahwa akan memakai fotografer lain, sehingga kami seperti dijadikan second vendor. Spot utama diambil oleh fotografer tersebut, dan ironisnya gear yang digunakan bahkan standar photobooth, bukan standar dokumentasi utama. Saat hari H, komentar datang terus-menerus. Ini kurang, itu tidak pas. Bahkan kami ditegur saat makan, padahal event sudah selesai dan vendor lain pun melakukan hal yang sama. Jujur, di momen itu emosi benar-benar diuji. Rasanya seperti tidak dihargai sebagai partner kerja.

Setelah acara selesai pun belum berakhir. Revisi desain berjalan tanpa arah. Sudah diganti sesuai permintaan, diganti lagi. Sudah diganti lagi, masih ada perubahan. Dan setiap kali giliran kami menunggu keputusan, jawabannya selalu, “Bentar ya kak, aku sibuk banget.” Tapi ketika akhirnya mereka siap, mereka mengejar kami seolah-olah semuanya harus instan. Padahal pekerjaan sudah masuk antrian dengan project lain. Timeline bukan cuma tentang satu client saja.

Dari semua pengalaman itu, aku belajar satu hal penting: red flag selalu terlihat di awal, hanya saja kadang kita memilih untuk mengabaikannya. Trust, respect, dan komunikasi dua arah itu fondasi kerja sama. Tanpa itu, sebesar apa pun nominalnya, tetap tidak akan terasa sepadan dengan energi yang terkuras.

Dan aku akhirnya membuat batas yang lebih tegas untuk diri sendiri dan tim. Tips dariku untuk sesama vendor: jangan abaikan intuisi di awal komunikasi. Cara client bertanya, cara menghargai waktu, cara merespon penjelasan. itu sudah cukup memberi gambaran seperti apa proses ke depannya. Buat sistem yang jelas dan jangan takut menegakkannya, entah itu soal appointment, timeline revisi, batas maksimal revisi, atau jam kerja. Jangan tergoda hanya karena “momentumnya bagus” atau terlihat bisa menaikkan nama brand, kalau secara energi dan value tidak seimbang. Kita bukan hanya menjual jasa, tapi juga waktu, fokus, dan mental. Client yang tepat akan menghargai itu. Dan percaya deh, lebih baik kehilangan satu project daripada kehilangan kewarasan dan standar profesional kita sendiri.



HEllow.. Kemarin aku akhirnya menyempatkan diri datang ke Big Bad Wolf Surabaya 2026. Datangnya sengaja di H+4, karena jujur saja… lihat keramaian di hari pertama itu rasanya lebih cocok ditonton dari Instagram daripada dialami langsung. wwkwkwk...

Sebelum berangkat, aku sempat baca beberapa komentar di thread. Isinya kurang lebih: “nggak worth it”, “bukunya itu-itu lagi”, “tempatnya kurang strategis”, “kebanyakan buku anak”. Dalam hati aku mikir, ah masa sih? Tapi ya sudahlah, penasaran tetap menang.

Dan… ternyata pas aku sampe sana, cukup relate. Rak demi rak dipenuhi buku anak. Kalau dihitung-hitung, mungkin 70% isinya buku anak. Sepertinya memang ini kategori best seller, jadi stoknya digenjot habis-habisan. Masuk akal sih, walau bikin pengunjung non-parent sedikit merasa tersisih 😅


Buku selain anak tetap ada kok, tapi soal harga… hmm. Di rentang 100–300 ribu, rasanya agak nanggung. Di titik ini aku mulai berpikir, kalau sudah 300 ribu, mending sekalian ke Periplus ya nggak sih? Sementara buku yang di gogngongin di ig katanya 30 ribuan itu… entah bersembunyi di rak mana. Aku cari, tapi ga pernah benar-benar bertemu.




 Aku sendiri ga bisa memberikan review yang terlalu detail. Selain waktunya singkat, fokusku juga terpecah karena bocil sudah mulai kehilangan kesabaran melihat buku terlalu lama. Jadi tulisan ini bukan penilaian menyeluruh...lebih ke berbagi pengalaman singkat dari sudut pandang pengunjung yang datang dengan ekspektasi sederhana. atau lebih ke survive sambil lihat-lihat, bukan berburu harta karun literasi. hehehe pameran ini sampai tanggal 8 februari 2026 kalau kalian mau dateng silahkan.... ga ada tiket masuk. 


Catatan singkat dari kunjungan yang lebih banyak cerita daripada belanja
Astrid Arifianti, Februari 2026


Older Posts Home

ABOUT ME

Hi, I’m Astrid 💜 I run a photo & video business and love capturing moments in my own creative way. When I’m not working, I enjoy drawing, crafting, journaling, and baking... simple things that make my days feel calm and meaningful. This blog is my purple-toned space to share stories, creativity, and things I truly love. Welcome to my little world ✨

Already Spilled

  • “Belajar Percaya: Perjalanan Menjadi Ibu yang Cukup, dan Anak yang Tumbuh Lebih dari Harapan”
  • Tentang Mimpi yang Tidak Pernah Dimulai
  • Taman Sari Yogyakarta
  • Rafandra 1st Birthday ( Syukuran Rafandra )
  • Booking hotel pake cicilan ATOME (The Lifes Style hotel Surabaya)
  • 2025: Client Lessons (Red Flag Edition)

PERSONAL

  • About Rafandra
  • Everything in my life
  • Family Moon
  • Healings
  • Journey of Mom To-be
  • Journey of Mommy
  • Self Motivation
  • Song Of The Day
  • Thoughts
  • Traveling
  • a Story To Tell

HALF MY LIVE

  • All About Wedding
  • Baby & Kid Place Review
  • Goodies
  • OOTD
  • Photo Recipe
  • Photo diary
  • Photography
  • Photography Stuff
  • Product Review
  • Tips and Trick
  • back to bake
  • freebies

Another World

  • 2521
  • DraCin
  • K-News
  • My Liberation Note

Distributed By Gooyaabi | Designed by OddThemes