2025: Client Lessons (Red Flag Edition)

Tahun 2025 kemarin ngajarin aku satu hal penting dalam bisnis: tidak semua client harus diperjuangkan. Ada kalanya kita terlalu ingin “ambil momentum”, terlalu ingin portfolio terlihat naik level, sampai lupa satu hal sederhana , apakah ini worth it?

Aku pernah handle client yang secara harga tidak banyak menawar, tapi cerewetnya luar biasa. Cerewet sebenarnya bukan masalah. Aku justru senang dengan client yang detail dan ingin tahu proses kerja kami. Tapi yang satu ini berbeda. Setiap penjelasan yang kami berikan selalu terasa tidak cukup. Semua ditanya sampai ke detail alat-alat kecil, teknis yang bahkan sebenarnya sudah jelas dari portfolio dan reputasi kami. Rasanya seperti tidak ada trust sejak awal. Padahal sebelum hire, mereka sudah lihat akun kami, sudah tahu kualitas kami. Tapi tetap saja setiap percakapan terasa seperti kami sedang diuji.

Yang bikin makin menguras energi, dia beberapa kali datang ke office tanpa appointment. Padahal sistem kami jelas: by appointment only. Ketika tidak bertemu karena memang tidak ada jadwal, malah kami yang seolah disalahkan. “Loh kak, aku sudah di depan rumah.” Kalimatnya terdengar sederhana, tapi rasanya seperti sedang digaslight. Seakan-akan kami yang tidak profesional, padahal aturan sudah jelas sejak awal. Dan puncaknya, dia membuat grup khusus berisi dirinya, calon pasangannya, dan tim kami. lalu mereka beradu argumen di dalam grup itu. Vendor berubah jadi penonton konflik pribadi. Di situ aku sadar, ini bukan lagi soal pekerjaan. Ini soal batas.

Belum selesai di situ, ada juga tipe lain yang lebih melelahkan secara mental. Tipe yang menawar tanpa masuk akal, cerewet, revisi berkali-kali, tapi di saat yang sama selalu mengaku sibuk. Awalnya kami tetap ambil karena berpikir ini bisa jadi momentum yang bagus untuk exposure vendor. Kesalahan kami juga, terlalu ingin mengejar “nama”. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya.

Mereka tidak konfirmasi sejak awal bahwa akan memakai fotografer lain, sehingga kami seperti dijadikan second vendor. Spot utama diambil oleh fotografer tersebut, dan ironisnya gear yang digunakan bahkan standar photobooth, bukan standar dokumentasi utama. Saat hari H, komentar datang terus-menerus. Ini kurang, itu tidak pas. Bahkan kami ditegur saat makan, padahal event sudah selesai dan vendor lain pun melakukan hal yang sama. Jujur, di momen itu emosi benar-benar diuji. Rasanya seperti tidak dihargai sebagai partner kerja.

Setelah acara selesai pun belum berakhir. Revisi desain berjalan tanpa arah. Sudah diganti sesuai permintaan, diganti lagi. Sudah diganti lagi, masih ada perubahan. Dan setiap kali giliran kami menunggu keputusan, jawabannya selalu, “Bentar ya kak, aku sibuk banget.” Tapi ketika akhirnya mereka siap, mereka mengejar kami seolah-olah semuanya harus instan. Padahal pekerjaan sudah masuk antrian dengan project lain. Timeline bukan cuma tentang satu client saja.

Dari semua pengalaman itu, aku belajar satu hal penting: red flag selalu terlihat di awal, hanya saja kadang kita memilih untuk mengabaikannya. Trust, respect, dan komunikasi dua arah itu fondasi kerja sama. Tanpa itu, sebesar apa pun nominalnya, tetap tidak akan terasa sepadan dengan energi yang terkuras.

Dan aku akhirnya membuat batas yang lebih tegas untuk diri sendiri dan tim. Tips dariku untuk sesama vendor: jangan abaikan intuisi di awal komunikasi. Cara client bertanya, cara menghargai waktu, cara merespon penjelasan. itu sudah cukup memberi gambaran seperti apa proses ke depannya. Buat sistem yang jelas dan jangan takut menegakkannya, entah itu soal appointment, timeline revisi, batas maksimal revisi, atau jam kerja. Jangan tergoda hanya karena “momentumnya bagus” atau terlihat bisa menaikkan nama brand, kalau secara energi dan value tidak seimbang. Kita bukan hanya menjual jasa, tapi juga waktu, fokus, dan mental. Client yang tepat akan menghargai itu. Dan percaya deh, lebih baik kehilangan satu project daripada kehilangan kewarasan dan standar profesional kita sendiri.

0 Comments