Halo… its been a while ya setelah post saya yang terakir. Hmm kalo di bilang , aku kehilangan minat menulis, entah karena Fomo media social lain atau to much OVT kalo mau “fulgar” nulis di blog. Anyway, setelah saya pertimbangkan kembali, cara “old school” yaitu : menulis di blog kayaknya lebih santai. Sepi dari populasi netizen salah satu alasannya , hahah.. yeah, im not interesting to deal with them. To much drained…
Ok… “there is no manual book to a leader” . Yup ini hubungannya dengan perkembangan my the only one , my half , my love of my life, anakku Rafa. Alhamdulillah dia tahun ini berumur 9, dalam perjalanan hidupnya dari 0, mungkin fase ini adalah titik balik menuju ke “rabbelan” nya. Menuju semi adulting mungkin , fase remaja muda. I dont know….
Angel mom turning to a devil mom mungkin kata Rafa. Hehehe… so di 9 tahun ini, dia mulai banyak membantah , tidak menurut, malas mengerjakan tugas, bahkan bisa mencari alasan atas semua tindakan yang salah. Its so hard to handle it, belive me, aku adalah orang tua yang berencana memutus tali parenting dari orang tua boomeer. Maksudnya , aku tidak meng-copy parenting orang tuaku dulu, pukul sampai lebam , bentak dengan kata kasar, its all not my plan. But, apa dengan gaya parenting ku sekarang bisa berhasil?
Aku mencoba menerapkan “heart to heart” “saling mendengarkan” dan menerapkan “saling menghormati”. Sebenarnya kalau bisa jujur, aku tidak yakin ini bakal berhasil hahaha… nyatanya sering anak ini seperti melawan, dan mencari alasan tersendiri. Ya tuhan… jika saja semua advice dari seleb parenting itu sangat mudah di aplikasikan hehehe.
Kesabaran adalah kunci dari semua ini, sabar dan terus mencoba. Itu sangat memakan waktu yang lama, tapi aku tidak boleh menyerah kan? Banyak aku lihat di sekitarku orang tua baru yang give up sama anaknya dalam arti : membiarkan semua yang terjadi biarlah terjadi. "Biarin lah masih kecil ini" "namanya juga anak2" "nanti juga kalo udah besar ga gitu". Apa kalian sering mendengarkan kata2 ini?
Menurutku itu adalah tindakan yang sangat sangat salah, menurutku loh... dont judge me...
Menurut ku, justru mendisiplinkan anak waktu dia under age lebih penting daripada di suruh ngerti waktu dia uda dewasa. Aku berfikir kalau dia masih kecil , sebagai ortu harus membuat fondasi / akar sifat yang kuat untuk masa depan atau bagai mana dia bersikap kelak ketika dewasa.
Apalagi aku, anakku laki - laki. Dia akan menjadi pemimpin bagi keluarganya kelak , akan jadi seorang suami dari anak perempuan seseorang. Thats a taft thing i must do. creating a leader.
Lantas apa yang sudah ku lakukan :
Aku mengajarkan rafa , bentuk tanggung jawab , disiplin yang ketat, hal - hal kecil seperti menaruh tas , menyiap kan pelajaran , atau aturan - aturan kecil yang jika di langgar akan ada konsekwensi hukuman yang dia terima. Jadi dia tau pasti jika dilanggar akan ada hukuman yang dia terima. Dan secara sadar sukarela dia meniramanya. Oh ya, saya membuatkan tabel kedisiplinan soal ini. Jika dia menjalankan tugas dia akan dapat setiker bintang , jika sudah full dapat reward dari saya. tetapi jika dia melanggar tentu dia dapat hukuman.
Bagaimana dengan bentuk hukumannya? jangan salah, aku bukan tipe gentle parenting. bukan main fisik juga. Yang aku lakukan adalah bentuk hukuman seperti dia ikut summer camp hehehe. seperti lari lima putaran , bersihkan kamar mandi , atau jump squad, sita barang2 kesayangan dll. Tentunya dengan persetujuan dia. Kita sama - sama tawar menawar membuat kesepakatan tentang hukuman hehehe. Sama - sama No hurt filling..
Ga lupa, tentang respect women, aku paling sensitif soal ini. Selalu mengingatkan , kalau wanita harus di hormati , jika ada hal memalukan terjadi (jatuh, atau hal silly yang biasa anak cewek lakuin) jangan perna di ketawain , jaga omongan , dan jangan menyentuh fisik wanita selain mahram (dia ngerti soal mahram).
Bismillah deh, aku juga berusaha dan berdoa supaya anak ini menjadi pribadi yang di segani , berwibawa , dan mempunya adab akhlak yang baik, Amiinnn...
0 Comments