Happy (Belated) New Year 2026
Blog ini masih hidup, walau jujur… nulisnya nggak pernah konsisten.
Sudah hampir 5 tahun berjalan dengan ritme on lalu off yang kadang bikin aku sendiri geleng-geleng. Post terakhir? April 2025. Alasannya si banyak. Tapi kalau mau jujur banget, sebagian besar karena malas yang kebablasan dan nyaman. "Astrid Konsisten dikit" ada suara kecil di dalam hati, karena sangat kecil mungkin jadi ga kedengeran sama sekali.. hehehe
Anyway… resolusi tahun ini apa?
Versi aku sederhana tapi berat: “bekerja 100x lebih giat.”
Semoga bukan cuma jadi quote pembuka tahun yang manis, lalu dilupakan pelan-pelan ya... wkwkwkw
“Tisu dan Ceritanya”
Entah kenapa aku pengin mulai dari cerita ini.
Dari mana ya enaknya…
Yang jelas, ini bukan cerita biasa. Ada plot twist di dalamnya.
Tentang bagaimana Allah kembali menggetarkan hatiku, dengan cara yang sama sekali tidak aku duga.
Sudah lama, mungkin hampir tiga bulan, entah kenapa aku tidak pernah benar-benar berniat mengisi ulang tisu di mobilku. Berkali-kali orang tua mengingatkan dengan nada bercanda, “Mobil apa ini, nggak ada tisunya?” Dan setiap kali itu juga aku hanya mengiyakan, tanpa benar-benar melakukan apa-apa. Padahal tisu ada di rumah. Bahkan sudah aku beli. Tapi entah kenapa, tempat tisu di mobil itu tetap kosong. Lama. Hampir tiga bulan.
Hari ini, plot twist itu terjadi.
Entah mengapa, Rafa...anakku...merengek dan memaksa agar aku yang menjemputnya sekolah. Biasanya yang menjemput adalah bapaknya. Tapi hari ini berbeda. Ia bersikeras, dengan alasan sederhana yang membuatku tersenyum, “Karena enak dijemput mama, nggak nunggu lama.” Akhirnya aku mengalah.
Aku tiba di sekolah sekitar pukul 14.00. Dan di luar kebiasaanku, tiba-tiba perutku terasa tidak nyaman. Biasanya aku tidak pernah mengalami hal seperti ini di siang hari. Rutinitasku selalu sama....sekali,di subuh, selesai ga lagi. Tapi hari itu berbeda. Di sekolah, di tengah siang, aku merasa ingin buang air besar.
“Fa, tunggu mama sebentar ya… mama ke toilet dulu,” kataku.
Mungkin terdengar sepele dan terlalu detail. Tapi percayalah, semua ini saling berkaitan.
Sekitar setengah jam kemudian, aku selesai dan kembali ke mobil. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan, mataku tertuju pada seorang penjual tisu tuna daksa. Di punggungnya tergantung tas besar... benar benar tas bueeessaarrr...bukan ransel....ukurannya bahkan tampak lebih lebar dari punggungnya sendiri. Bertuliskan “Menjual Tisu.” Di tangannya, selain menopang tubuh dengan kruk, ia juga menenteng plastik besar yang penuh berisi tisu.
Aku terdiam sejenak. Hatiku ingin berhenti. Ingin membeli. Namun kondisi jalan tidak memungkinkan untuk menghentikan mobil dengan aman. Aku pun terpaksa melewatinya. Dalam hati, aku hanya bisa berdoa pelan, semoga jualannya laris hari itu. Jujur, ada rasa sedih yang tertinggal.
Ga lama dari aku melawati bapak itu, aku merasa sangat haus. Biasanya aku selalu membawa tumbler ke mana pun pergi, tapi hari itu aku lupa. Tak jauh dari sana, aku melihat Alfamart dan memutuskan berhenti. Aku turun bersama Rafa. Awalnya niatku hanya membeli air mineral yang bisa di pastikan kegiatan itu hanya butuh beberapa menit, tapi seperti biasa, urusan jadi lebih lama karena Rafa memilih jajanan.
Sekitar lima menit kemudian, kami kembali ke mobil. Aku duduk, menutup pintu, dan mulai minum. Belum sempat menyalakan mesin, tiba-tiba aku melihat sosok yang tadi....bapak penjual tisu itu, berjalan tepat di samping mobilku. Seolah sudah diatur, ia berhenti untuk beristirahat di bawah sebuah pohon, hanya sekitar tiga meter di depan mobilku.
Aku langsung turun.
Aku membeli tisunya.
Saat berdiri dekat dengannya, aku melihat wajahnya lebih jelas. Keringat membasahi wajahnya, menetes pelan. Di momen itu, hatiku terasa bergetar. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Karena kalau aku jujur pada diriku sendiri, belakangan ini aku sering mengeluh. Tentang pekerjaan. Tentang lelah. Tentang tekanan dan beban yang rasanya tak ada habisnya. Dan di hadapanku berdiri seseorang yang bekerja dengan seluruh tenaga yang ia miliki, tanpa keluhan yang terdengar, walau fisik tidak sempurna.. Aku merasa di tampar...
Saat itu aku seperti mengerti. Tempat tisu di mobilku yang kosong selama berbulan-bulan itu ternyata memang bukan tanpa alasan. Seolah Allah sedang menyiapkan waktunya sendiri...dan ada orang yang tepat untuk mengisinya.
Ya Allah… lewat kejadian sederhana ini, pesan-Mu terdengar begitu jelas.
Setelah kembali masuk ke mobil, aku menangis. Bukan sekadar berkaca-kaca, tapi benar-benar menangis. Hati ini seperti disentuh di bagian terdalamnya. Dan jujur saja, saat menulis bagian ini pun air mataku ikut menetes. Entah kalian akan bilang aku lebay, atau terlalu sensitif....aku tidak peduli. Karena di momen itu, aku tahu persis apa yang aku rasakan.
Semua ini datang di saat aku sedang lelah. Di saat aku mulai putus asa dengan pekerjaan. Di saat keluh kesah lebih sering keluar daripada rasa sabar. Dan ternyata, Allah sudah menyiapkan jawabannya dari jauh hari. Dari sesuatu yang terlihat begitu sederhana. Seremeh tisu.
Aku kembali diingatkan untuk tidak menyerah.
Diingatkan untuk berhenti mengeluh.
Dan diingatkan tentang arti bersyukur, yang sering kali aku lupa.
Jika saja hari itu bukan aku yang menjemput Rafa.
Jika saja aku tidak ke toilet lebih dulu.
Jika saja aku tidak merasa haus.
Jika saja tempat tisu di mobil itu sudah terisi sejak awal.
Mungkin semua ini akan terlewat begitu saja.
Dan di situlah aku mengerti....tidak ada yang benar-benar kebetulan. Semua sudah diatur. Dengan waktu, urutan, dan cara yang paling tepat.
Hari ini aku belajar, bahwa Allah tidak selalu menegur dengan sesuatu yang besar. Kadang justru lewat hal-hal kecil yang kita anggap sepele. Lewat jeda. Lewat keterlambatan. Lewat kekosongan yang dibiarkan terlalu lama.
Aku belajar bahwa lelah boleh, mengeluh manusiawi, tapi menyerah bukan pilihan. Karena saat aku merasa sendiri, ternyata aku sedang diarahkan. Saat aku merasa tertinggal, ternyata aku sedang diperlambat agar melihat lebih dekat.
Tisu itu kini ada di mobilku. Terisi.
Tapi yang jauh lebih penuh adalah hatiku.
Dan sejak hari ini, aku tahu....setiap kali aku mulai lupa bersyukur, Allah selalu punya cara yang lembut untuk mengingatkanku kembali.
Astrid Arifianti.

0 Comments